Tampilkan postingan dengan label Prezi. Tampilkan semua postingan

Sejarah Kerajaan Kutai


Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura) adalah kerajaan bercorak hindu yang terletak di muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai berdiri sekitar abad ke-4.Diperkirakan Kerajaan Kutai berdiri pada abad 4 M prasasti tersebut didirikan oleh Raja Mulawarman. Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh prasasti yang berbentuk yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta.

Kehidupan Masyarakat Kutai

Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan dari prasasti-prasasti yang ditemukan oleh para ahli. Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut :
[+] Masyarakat Di Kerajaan Kutai Tertata, Tertib Dan Teratur
[+] Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.

Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari dua hal berikut ini :
Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.

Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :

1. Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
2. Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
3. Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.

Untuk melihat presentasi secara lengkap , silahkan kunjungi link ini Kerajaan Kutai

Sejarah Kedatangan Proto Melayu Dan Deutro Melayu

Sebelum membaca mari kita tekan Ctrl+D terlebih dahulu :)


Garis Merah : Proto Melayu
Garis Hijau : Deutro Melayu


Teori dari Sarasin bersaudara (Paul dan Fritz Sarasin) menyebutkan bahwa populasi asli Indonesia adalah ras berkulit gelap serta bertubuh kecil dan keturunan dari ras asli ini disebut orang Vedda.
Ras ini awalnya mendiami wilayah Asia bagian tenggara yang saat itu masih bersatu sebagai satu daratan di dalam periode Glasial (zaman es). Di akhir periode Glasial, es mencair dan mengakibatkan permukaan laut naik. Hasil lelehan es ini menciptakan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Kedua laut ini memisahkan pegunungan vulkanik Indonesia dari daratan utama Asia. Penduduk asli (yang berkulit gelap tadi) tinggal di wilayah pedalaman, sementara wilayah pesisir dihuni oleh kaum pendatang.
Koentjaraningrat menyebut orang Vedda memiliki persamaan dengan penduduk asli Australia (Aborigin) sehingga menyebutnya sebagai Austro-Melanosoid. Penamaan Vedda diambil dari salah satu suku yang terkenal di Srilanka. Termasuk ke dalam ras ini adalah suku Hieng di Kamboja, Miao-tse dan Yao-jen di Cina, Senoi di Semenanjung Malaya, Kubu, Lubu, dan Mamak di Sumatera, serta Toala di Sulawesi.

Orang Vedda atau Austro-Melanosoid ini kemudian menyebar ke Timur dan mendiami Papua, Sulawesi Selatan, Kai, Flores Barat, Timor Barat, Seram sebelum es periode Glasial mencair dan terus ke timur dan mendiami Kepulauan Melanesia. Sebagian dari mereka menyebar ke Barat dan menghuni pulau Sumatera. Di Sumatera ini mereka mengembangkan perkakas berupa kapak genggam. Mereka juga suka memakan kerang yang dibuktikan lewat tumpukan fosil kulit kerang di dekat Medan Sumatera Utara, dekat Langsa (Aceh), Perak, Kedah, dan Pahang di wilayah Semenanjung Malaysia.

Kaum pendatang lalu datang dalam dua gelombang. Gelombang pertama disebut Proto-Melayu dan gelombang kedua disebut Deutero-Melayu

Proto-Melayu dipercaya sebagai moyang dari penduduk yang menghuni kawasan kepulauan dari Madagaskar hingga pulau-pulau paling timur di Pasifik. Mereka ini datang dari Cina bagian selatan, tepatnya wilayah Yunnan. Mereka bermigrasi dalam jumlah besar, pertama menuju Indochina, Siam, dan terakhir ke Kepulauan Indonesia. Taksiran waktunya adalah 11.000 - 2000 sM.

Perkakas mereka berasal dari periode neolitik. Selain dari Yunnan, Koentjaraningrat juga menyebut kemungkinan Proto-Melayu ini datang dari Kepulauan Ryukyu Jepang, Taiwan, Filipina, Sangir, dan masuk ke Sulawesi Selatan yang dibuktikan dengan adanya Suku Toala Proto-Melayu. Mereka ini sudah mengembangkan budaya berburu dengan busur dan panah.

Kepandaian ini lalu berkembang menjadi membuat besi. Kebudayaan Melayu Muda ini sering disebut kebudayaan Dong Son. Nama Dong Son ini disesuaikan dengan nama daerah di sekitar Teluk Tonkin (Vietnam) yang banyak ditemukan benda-benda peninggalan dari logam. Daerah Dong Son ini ditafsir sebagai tempat asal bangsa Melayu Muda sebelum pergi menuju Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia di antaranya adalah kapak corong (kapak sepatu), nekara, dan bejana perunggu.

Pada perkembangannya, Proto-Melayu dan Deutero-Melayu membaur secara bebas sehingga sulit dibedakan. Sebagai taksiran, dapat disebut Suku Gayo dan Alas di Sumatera bagian utara serta Toraja di Sulawesi sebagai representasi Proto-Melayu. Setelah itu, hampir seluruh suku lain (kecuali Papua) dimasukkan ke dalam kategori Deutero-Melayu. Kendati demikian, sesungguhnya dapat dikatakan bahwa moyang dari penduduk di wilayah kepulauan Indonesia adalah serumpun yaitu turunan dari penduduk asli (orang Vedda) dan dua gelombang migrasi dari utara. 

Bisa lihat presentasinya => Di Sini <=

Sistem Kepercayaan Manusia Pada Zaman Pra-aksara





1. Sistem Kepercayaan

Pada Masa Praaksara, seiring dengan perkembangan kemampuan berpikir, manusia purba mulai mengenal kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan lain di luar dirinya yang disebut sistem kepercayaan manusia purba/zaman pra aksara. Oleh sebab itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, yang paling menonjol upacara penguburan orang meninggal ataupun upacara ritual lainnya Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lukisan-lukisan di dinding goa di Sulawesi Selatan dan juga berbagai alat ritual lainnya yang akan dijelaskan nanti. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia zaman praaksara diperkirakan tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan.

Upacara sebagai bentuk ritual kepercayaan mengalami perkembangan seiring zaman. Mereka melakukan upacara tidak hanya berkaitan dengan leluhur, akan tetapi berkaitan dengan mata pencaharian hidup yang mereka lakukan. Misalnya ada upacara khusus yang dilakukan oleh masyarakat pantai khususnya para nelayan. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat pantai ini, yaitu penyembahan kekuatan yang dianggap sebagai penguasa pantai. Penguasa inilah yang mereka anggap memberikan kemakmuran kehidupannya. Sedang di daerah pedalaman atau pertanian ada upacara persembahan kepada kekuatan yang dianggap sebagai pemberi berkah terhadap hasil pertanian.

2. Macam-macam Kepercayaan

A. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh yang mendiami semua benda. Manusia purba percaya bahwa roh nenek moyang masih berpengaruh terhadap kehidupan di dunia. Mereka juga memercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya pohon, batu, gunung, dsb. Agar mereka tidak diganggu roh jahat, mereka memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut.

B. Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dll. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya.

C. Totemisme adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci antara lain sapi, ular, dan harimau. Hewan yang dianggap suci juga bisa berasal dari mimpi, misal seseorang memimpikan kura-kura, maka hewan suci yang dipujanya adalah kura-kura. Biasanya orang-orang yang menggangap suatu hewan suci akan pantang makan daging hewan itu dan tidak membunuh serta melindungi hewan itu.

3.  Barang-barang Peninggalan Sistem Kepercayaan Zaman Pra-Aksara

1. Menhir adalah tiang atau tugu batu yang berfungsi sebagai prasasti dan melambangkan kehormatan arwah nenek moyang. 

2. Dolmen adalah meja batu untuk meletakkan sesaji. 

3. Peti Kubur Batu adalah lempeng batu besar berbentuk kotak persegi panjang berfungsi sebagai peti jenazah. 

4. Sarkofagus, adalah batu besar yang di pahat berbentuk mangkuk terdiri dari dua keeping yang ditangkupkan menjadi satu. Berfungsi sebagai peti jenazah. 

5.Waruga, adalah peti kubur batu berukuran kecil, berbentuk kubus dan memiliki tutup 

6. Punden Berundak adalah bangunan berupa batu susunan batu berundak seperti candi. Digunakan untuk upacara pemujaan. 


Terima Kasih atas perhatiannya 
Maaf jika ada kesalahan kata.

http://stefanus-kristianto.blogspot.com

Untuk presentasinya, bisa dilihat disini = Presentasi Sistem Kepercayaan